0823 6877 4440 [email protected]

MEMBERIKAN HARAPAN UNTUK YUSLI

MEMBERIKAN HARAPAN UNTUK YUSLI

Beberapa minggu yang lalu seorang anak dibawa oleh gurunya ke kantor Burangir meminta pertolongan karena kasihan melihat kondisi anak tersebut. Namanya Yusli, saat ini dia kelas 3 di SMKN 3 P.Sidimpuan. Dari dalam telinganya keluar nanah dan darah akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu lalu. Setiap gurunya menyarankan supaya dia dibawa ke rumah sakit, dia mengatakan kalau orangtuanya tak sanggup saat ini membawanya berobat.
Ibunya baru meninggal 1 tahun yang lalu pasca melahirkan, ayahnya juga baru kecelakaan membuatnya tak bisa bekerja. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dengan kondisi Yusli yang kesakitan akibat nanah dan darah yang keluar dari dalam telinganya, dia memaksakan diri untuk menyadap karet setelah pulang dari sekolah.
Mendengar itu, Burangir berjanji menguruskan BPJS nya sebagai peserta mandiri supaya bisa digunakan untuk perobatan Yusli dan bapaknya yang masih belum pulih.
Malam ini, Tim Burangir menjumpai keluarga Yusli di rumah mereka di Gomburan,Desa Aek Bayur,P.Sidimpuan Batunadua karena kalo siang sampai sore Yusli pergi ke kebun menyadap karet. Ayahnya menceritakan dengan sedih bagaimana kondisi keluarganya sepeninggal istrinya, anaknya ada 7 orang, Yusli paling besar sementara yang kecil masih bayi berusia 1 tahun. Seandainya dia sehat, pastilah dia akan membawa Yusli untuk berobat namun kondisinya saat ini tak bisa berjalan sambil memegang kaki sebelah kirinya yang sakit akibat kecelakaan yang dialaminya.
Ayahnya Yusli bersyukur kalau Burangir memberikan jalan untuk mengurus BPJS supaya anaknya bisa segera berobat dan begitu juga karrna selama ini hanya dengan upaya berkusuk untuk kesembuhannya. Dia juga bersyukur guru-guru Yusli sangat membantunya bahkan dibelikan obat untuk dia dan Yusli. Dia sempat bingung kemarin waktu Yusli mau ujian dan harus membayar biaya sekolah namun ada gurunya yang menjamin hingga Yusli bisa ujian.
Kami mendengar sesekali tangisan bayi kecil dari dalam kamar saat ayahnya bercerita dengan kami.
Setelah mendengar itu semua, kami pun menelepon Aparat Desa Aek Bayur supaya mengusulkan KIS PBI kepada keluarga ini agar ke depan tidak terbebani lagi dengan mebayar iuran bulanannya sebesar 285 ribu per bulan. Aparat desa pun merespon dengan baik apalagi keluarga ini mendapat BLT Desa juga selama ini sehingga memang mereka layak mendapat KIS gratis dari pemerintah.
Kami pun pulang dengan menyampaikan bahwa untuk bulan ini Burangir telah membayar iuran BPJS nya dan sudah bisa berobat gratis ke rumah sakit, untuk beberapa bulan ke depan kita juga akan berupaya mencari dana untuk pembayaran iuran berikutnya sebelum dialihkan ke KIS gratis.